22 March 2007
Presented by Rev. Fr. Alex Lanur, OFM, Prof. Dr.
At the Outing Activity of Saint Peter’s School Teachers and Staffs at Villa Ratu, Sukabumi of West Java
Pengantar
Setiap orang lahir dan dibesarkan dalam suatu keluarga atau batih. Itulah sebabnya mengapa sejak semula dia sudah dikelilingi, dilindungi dan dipelihara oleh orang-orang lain, paling tidak, oleh orang tuanya sendiri. Dia berada bersama mereka dan berhubungan dengan mereka pula. Dia adalah anggota suatu keluarga dan belajar menjadi anggota keluarga tersebut. Dalam keluarga itu dia mulai mengenal dan menemukan dirinya dengan bantuan orang-orang lain. Dia bahkan lebih dahulu menemukan orang lain daripada dirinya sendiri. Semua itu terjadi dalam keluarganya, dalam batihnya.
Saling Membutuhkan
Kita berada didunia ini. Pernyataan itu menyatakan bahwa kita bersatu dengan alam jasmani, dengan barang-barang dan benda-benda. Kita mempunyai hubungan yang khusus dengan alam jasmani, dengan barang-barang dan benda-benda itu. Hal itu menyatakan bahwa hidup kita berarti menjalankan dan mewujudkan kesatuan dengan alam jasmani, dengan barang-barang dan benda-benda itu.
Kenyataan dan upaya itu serentak pula menunjukkan bahwa setiap orang mempunyai kepentingannya sendiri. Kepentingan setiap orang itu disatu pihak tidak terpisahkan, saling bergantungan. Namun dilain pihak kepentingan mereka juga dapat saling bertentangan. Keadaan saling bergantungan ini paling tampak dalam pembagian kerja. Dalam pembagian kerja tampak bahwa setiap orang membutuhkan orang lain serta “pengorbanan”nya. Kelalaian orang yang satu dapat merusakkan segala sesuatu, termasuk kepentingan orang lain, kepentingan bersama serta kepentingan orang yang bersangkutan itu sendiri. Ketergantungan seperti itu semakin terasa dewasa ini. Namun yang lebih penting adalah bagaimana orang bekerja sama agar kepentingan mereka masing-masing yang saling bergantung itu dan kepentingan bersama yang tidak mungkin terlepas dari “pengorbanan” mereka dapat diwujudkan semaksimal dan sebaik mungkin.
Perikemanusiaan
Namun demikian hidup kita tidak hanya berupa berada didunia saja. Kita juga berada bersama dengan orang-orang lain. Hal ini juga harus kita jalankan dan wujudkan. Dengan demikian ditunjukkan bahwa cara berada kita dapat disingkat menjadi menjasmani-mengaku-mengita. Demikian dikatakan oleh Prof.N.driyarkara. Hal itu dapat dirumuskan secara singkat dalam perikemanusiaan.
Perikemanusiaan berarti menghormati, menjunjung tinggi sesame manusia, setiap orang, setiap manusia. Sebab, cinta kasih tanpa hormat, tanpa menjunjung tinggi itu tidaklah mungkin. Barang siapa mengaku dan merasa bahwa dia mencintai orang lain tapi serentak pula memperalat orang yang dicintainya, sesungguhnya orang itu tidak mencintai orang lain itu. Cinta berarti mengakui dan menghormati sesamanya sebagai pribadi. Pribadi tidak boleh disamakan dengan benda atau barang. Pernyataan tersebut dengan sendirinya menolak perbudakan, penghisapan dan sebagainya atas sesamanya. Apa yang tidak kita inginkan orang lain perbuat terhadap diri kita, janganlah kita lakukan terhadap orang lain. Suatu rumusan negative dari perikemanusiaan itu. Atau, Cintailah sesame manusia seperti dirimu sendiri. Perlakukanlah dia sebagaimana engkau sendiri ingin hal itu terjadi atas dirimu. Demikianlah rumusannya yang lebih positif. Hak-hak asasi manusia merupakan rincian dari dalil ini.
Persaudaraan
Jika kita taat pada prinsip tersebut, maka hiduplah kita dalam persaudaraan. Persaudaraan adalah suatu bentuk hidup bersama yang ditandai oleh keyakinan dan kesadaran bahwa semua anggotanya setara dan sederajat saja dihadapan Allah. Mereka merasa demikian karena mereka yakin bahwa mereka semua akhirnya merupakan buah ciptaan Allah yang sama. Allah yang sama menghendaki agar mengembangkan dan menyempurnakan dirinya. Penyempurnaan diri dapat mereka laksanakan dan wujudkan dalam karya, yang serentak pula merupakan sarana pelayanan. Itulah sebabnya mengapa mereka tidak (terlalu) mempersoalkan asal-usul mereka masing-masing, latar belakang sosio-ekonomis-politisnya, serta warna kulitnya dan sebagainya.
Namun demikian yang berikut ini juga perlu dikatakan. Tidak mungkin orang hidup bersama dalam satu kelompok, bila anggota-anggotanya tidak saling menerima dengan segala kebaikan, kelebihan dan kekurangannya. Namun untuk dapat hidup bersama dengan orang-orang yang wataknya, pendidikannya dan bakatnya berlainan dan mempunyai kebiasaan-kebiasaan dan cara-cara yang berbeda satu sama lain, diperlukan penyangkalan diri yang cukup mendalam. Setiap anggota hendaknya siap sedia untuk melepaskan egoismenya dan memperbaiki dirinya sejauh mungkin agar tidak menjadi gangguan untuk orang-orang lain dan seluruh persaudaraan.
Dalam persaudaraan itu memang semua anggotanya sama derajatnya. Dunia dimana kita hidup sebenarnya merupakan tempat adanya ketidaksamaan. Namun demikian tidak tertutup kemungkinan bahwa kita tidak hanya menginginkan tetapi juga nyatanya mewujudkan persaudaraan kita sebagai tempat terwujudnya kesamaan dan kesetaraan. Dalam persaudaraan seperti itu semua anggotanya sama hak dan kewajibannya. Bila hal itu sungguh terwujud secara nyata, maka persatuan antar para anggota.juga dapat dipelihara dan bahkan dapat ditingkatkan mutunya.
Persaudaraan yang ditata dengan semangat kesamaan itu nyatanya ditata sedemikian rupa sehingga ada struktur hirarkhis didalamnya. Artinya, didalam persaudaraan tersebut ada pimpinan dan ada bawahan. Pimpinan memang mempunyai berbagai fungsi. Namun dia tidak dapat dilepaskan dari fungsi yang satu ini, yang meringkaskan dan mendasari semua fungsinya yang lain. Dan fungsi yang meringkaskan dan mendasari semua fungsinya yang lain itu adalah bahwa dia merupakan pelayanan seluruh persaudaraan. Secara singkat, fungsinya adalah melayani persaudaraan.
Kesamaan dan kesetaraan itu juga menyebabkan para anggota persaudaraan saling terbuka dan penuh pengertian. Keterbukaan itu menyebabkan bahwa orang lain mengetahui apa saja yang dibutuhkan oleh mereka masing-masing. Keadaan itu juga menyebabkan bahwa mereka mengetahui apa saja yang dibutuhkan oleh seluruh persaudaraan. Kebutuhan tidak sedikit. Baik kebutuhan orang masing-masing maupun seluruh persaudaraan perlu dipenuhi. Namun hal itu hendaknya terjadi dengan cinta kasih.
Persaudaraan yang melayani
Bukan hanya pimpinan yang menjalankan karya pelayanan itu. Semua anggota dalam persaudaraan itu juga menjalankan karya pelayanan tersebut. Mereka hendaknya menjalankannya dibawah koordinasi pimpinannya dan dalam “ketaatan” pada tujuan bersama seluruh persaudaraan. Dengan demikian semua anggota persaudaraan akhirnya menjalankan karya pelayanan seluruh persaudaraan tersebut. Dan semangat yang seharusnya menjiwai mereka untuk menjalankan karya tersebut tidak dapat lain semangat pelayanan, semangat untuk melayani. Ciri khas dan tanda pengenal untuk karya yang mereka jalankan harus dan seharusnya adalah pelayanan dan bukan penguasaan, apalagi penindasan.
Bila hal itu terjadi maka berkembanglah gairah dalam diri anggota-anggotanya untuk menjalankan karya pelayanan itu sebaik-baiknya. Diharapkan bahwa lama kelamaan mereka menyadari bahwa kerjasama dengan cinta kasih yang penuh pengorbanan antara mereka merupakan hal yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Kerjasama antar mereka mutlak perlu dan selalu perlu ditingkatkan mutunya dan jangkauannya.
Penutup
Demikianlah disampaikan beberapa hal yang dapat menjadi pegangan untuk karya pelayanan kita. Masih ada banyak hal yang sebenarnya dapat disinggung dalam pertemuan seperti ini. Namun untuk memulai suatu pembicaraan yang lama kelamaan menjadi mendalam, apa yang disajikan sekarang ini kiranya cukup memadai. Namun hal itu midah-mudahan tidak berhenti pada diskusi yang bermutu saja. Diskusi yang bermutu hendaknya menggerakkan kita semua untuk bekerjasama dalam karya pelayanan kita dengan cinta kasih yang penuh pengorbanan dan setia menjalankan karya pelayanan tersebut dengan cinta kasih yang sama.
Daftar Acuan, antara lain:
Pengasuh Majalah Basis, Kumpulan karangan alm. Prof. Dr. N. Driyarkara Sj t.t. Battista Mondin, Philosophical Anthropology. Man : an impossible project?, Bangalore,1985.
Writer: Rev. Fr. Alex Lanur, OFM, Prof. Dr.
Reference: Foundation