Articles

Articles

24 October 2014

to have or to be ? dua pilihan cara menjalani hidup


to have or to be ?

dua pilihan cara menjalani hidup

Oleh: Joshua Untung

Apa yang akan dilakukan oleh Andy, ketika ia berjalan di suatu taman dan melihat bunga mawar bermekaran menyambut cerahnya matahari pagi? Ada dua pilihan untuk Andy. Pertama, ia memetik satu-dua tangkai, atau mungkin lebih, lalu membawanya pulang untuk mengisi vas dan menjadi penyedap mata di ruang tamu rumahnya. Kedua, Andy cukup memandangi keindahan warna-warninya serta keharuman aromanya secara close-up, sambil bersyukur atas anugrah alam ciptaanNya. Nah, pilihan mana yang akan anda ambil apabila menjadi Andy ?

Barangkali kebanyakan dari kita secara spontan akan mengambil pilihan pertama, karena dengan demikian kita dapat terus menikmati mawar selama beberapa hari sambil bersantai di kursi malas di ruang tamu. Mawar-mawar itu menjadi sepenuhnya milik kita. Tetapi tunggu dulu, jangan terburu-buru. Tampaknya pilihan kedua juga pantas dipertimbangkan. Apalagi jika kita berpikir lebih jauh bahwa, pengalaman menikmati keindahan mawar yang membuat kita mampu mensyukuri alam, tampaknya baik juga kalau dimiliki oleh banyak orang. Tindakan memetik mawar untuk dinikmati sendiri, berarti menghilangkan kesempatan bagi banyak orang untuk memiliki pengalaman yang membuat kita mampu bersyukur. Bukankah mawar-mawar di taman itu keberadaannya memang untuk dinikmati oleh sebanyak mungkin orang, dan bukan untuk menjadi hak perorangan?

Inilah contoh sederhana dari dua pilihan, yang ketika kita putuskan, barangkali kita tidak berpikir lebih jauh konsekuensinya. Padahal dari masing-masing pilihan itu memiliki dua muara yang berlawanan, sebab tiap pilihan itu mencerminkan dua cara yang berbeda bagaimana menjalani hidup. Kedua cara itulah, yang oleh Erich Fromm – seorang filsuf Jerman – kemudian diringkas menjadi dua frasa: to-have (memiliki) atau to-be (menjadi).

Suka atau tidak, disadari atau tidak, dijaman sekarang ini kita tengah diseret oleh pusaran main-stream yang pertama: to-have. Derasnya iklan beragam barang yang muncul di media elektronik, media cetak maupun space-board di jalan-jalan, bukan hanya berfungsi menjawab apa saja kebutuhan manusia, tetapi lebih jauh dari itu. Iklan telah berubah fungsi untuk menciptakan ragam kebutuhan yang makin luas, yang kalu dipikir-pikir sebenarnya kita tidak membutuhkannya, at all.

Begitu hebatnya mendera kita, sampai-sampai sekarang ini orang mulai berfikir bahwa personality seseorang dapat diukur melalui apa yang melekat pada dirinya: gadget, sepatu, jam tangan, baju, dan lai-lain asesoris dengan merk serba mahal dan up-to-date. Bahkan orang mulai tidak pe-de, kalau label-label itu tidak melekat pada dirinya. Personality adalah, apa yang tampak dari luar, yang dilihat orang, alias casingnya doang, bukan pada karakter apa yang ada di dalam.

Nafsu memiliki juga tidak mengenal kata cukup (enough). Kepuasan memiliki i-phone-4S akan segera hilang ketika muncul seri yang lebih anyar. Kita melihat dengan amat terang benderang sifat konsumtif masyarakat indonesia terutama anak-anak muda. Saya melihat sendiri antrean amat panjang ketika i-phone-5 dirilis beberapa waktu lalu di Kelapa Gading. Bahkan di China, seorang anak muda rela menjual salah satu ginjalnya untuk dapat membeli seri 4S ketika rilis. Apa saja merk hand-phone/gadget baru yang ditawarkan dari luar, asal terlihat keren dan canggih, pasti diborong habis, bagai kacang goreng.

Mari kita tinjau pilihan kedua: to-be (menjadi). Proses menjadi adalah proses panjang untuk menemukan jati diri, untuk membentuk citra diri yang positif. Dalam proses ini kita sering harus melawan keinginan-keinginan untuk memiliki benda yang hanya berfungsi memperindah tampilan luar (casing) kita. Kebalikan dari kata memiliki adalah memberi. Ya, memberi adalah sebuah tindakan menuju proses menjadi (to-be). Dalam hidup ini, ada orang-orang yang puas karena dapat memiliki dan menguasai sesuatu, tetapi ada juga orang-orang yang justru menemukan kepuasan bahkan kebahagiaan karena dapat memberi. Mari kita lihat contoh ini.

Pak Hasan seorang petani tua, suatu hari menanam pohon asam dan mangga di kebonnya dekat jalan. Pohon itu dirawat dengan baik. Seorang saudagar yang lewat merasa heran karena pohon itu perlu waktu bertahun-tahun baru memberi hasil, sementara usia Pak Hasan sudah lanjut. “Saya sekarang sudah bau tanah. Ketika pohon itu besar dan berbuah, mungkin saya sudah lama meninggal. Tetapi pohon itu akan tetap bermanfaat. Orang yang lewat bisa berteduh, anak-anak bisa bermain sambil memanjat dan memetik buahnya,” kata Pak Hasan. Kepuasan Pak Hasan bukan karena memiliki tetapi karena dapat memberi.

Orang yang dalam hidupnya memutuskan mengambil jalan menjadi (to-be), akan terus melakukan aktivitas (activity), bukan orang yang sibuk (busy). Seorang tukang batu sibuk melakukan pekerjaanya, karena ia digaji oleh tuannya; sementara Pak Hasan, petani tua yang menanam pohon pada contoh di atas, dia melakukan aktivitas.

Contoh sempurna dari tindakan melakukan aktivitas, telah ditunjukkan oleh Yesus, yang datang ke dunia untuk berbagi bahkan memberi diriNya, agar setiap orang punya kesempatan beroleh damai-sejahtera. Saya sangat terkesan dengan cerita seorang anak kecil yang merelakan 5 roti dan 2 ikan miliknya, untuk diberkati Yesus dan ternyata mampu memberi makan 5000 orang. Ajaib, masih tersisa 12 keranjang setelah semua makan dengan kenyang. Inilah salah satu mujizat besar yang, rupa-rupanya masih tetap berlaku hingga saat ini: barangsiapa mau berbagi, dia tidak akan kekurangan. Dengan bahasa lain: tidak ada seorangpun yang menjadi miskin karena memberi. Justru kepanya akan dibukakan pintu berkat, dari sudut-sudut yang tak pernah ia duga. Inilah janjiNya.

Menurut Fromm, “proses menjadi (to-be) menuntut agar kita membuang sikap mementingkan diri sendiri. Menjadi (to-be) mengharuskan adanya kemauan memberi, membagi, dan berkorban.” Menjadi seperti apakah harusnya kita ini, menurut Yesus? “Jadilah garam dunia, yang walaupun sedikit, dapat meberi manfaat besar. Jadilah terang dunia, yang walaupun kecil dapat menjadi sumber cahaya di kegelapan.” Memang, sebatang lilin baru bermanfaat ketika ia membakar dirinya sendiri. Siapkah anda memilih jalan sulit ini, yang akhirnya akan berujung pada kebahagiaan-sejati?

Recent Articles